Pagi itu, Mentari mulai menampakkan senyumnya, kicauan burung seakan menyambut kedatangan sang surya, daun dan pepohonanpun seakan menari dengan hembusan angin yang sangat menawan,,
Aku berjalan di antara jajaran pepohonan sambil menikmati silirya angin yang sangat menyejukkan hati, kurentangkan tanganku sambil memejamkankan mataku menghadap sang surya, merupakan suatu kenikmatan yang sangat aku rindukan ,,,
Tiba-tiba ,,,,,,,,
sssstttt( ada seseorang yang menutup mataku dengan telapak tangannya)
Hey siapa ini ?
eh Ana,, jangan ngayal mulu nanti kesambet lo ( Sambil duduk di atas batang kayu yang sudah tanggal)
ughhhh dasar ipeh mengagetkan saja ( sambil memukul pundak afifah)
ahahaahahah,,, ngapain kamu disini ? ( dengan wajah heran)
aku sedang menikmati sejuknya angin di pagi hari ( dengan senyuman yang menawan menghadap mentari)
uh uh sok puitis deh wkwkwk (sambil tertawa mengarah Ana)
ya biarin loh,, ngomong-ngomong ngapain kamu kesini ? biasanya jam segini kamu masih berada di kayangan (ranjang kasur ) wkwkwk ?
eh eh eh gk boleh suudzon ,, tdi itu ya mba dewi ngasih tau aku, katanya hadroh puteri mau diikutkan lomba, lombanya di Pendopo Pringsewu (jawab Afifah)
ahahahaha jangan halu deh, mana mungkin kita dibolehin lomba sama abi ? ( sambil memegang kening afifah)
iiiiih apaan si kamu ini, aku serius Ana, jadi pelatih hadroh kita meminta izin dengan Abi ,, dan alhamdulilah Abi memberikan izin ( tegasnya)
Benarkaaah ? ( dengan wajah yang terkejut
ya bener lah masa aku bohong sih ( tegasnya )
ya Ampun mimpi apa aku semalem , pagi-pagi udah dapet kabar membahagiakan,,, gara-gara mas Gilang kita boleh ikut lomba ( senyum-senyum sendiri)
huuu dasar bucin terus ,,, inget Ana focus dulu sma Quran mu, lagian denger-denger mas gilang itu suka sama mba bila ( menasehatii Ana )
iya aku tau, mba bila memang perfect woman ( muka yang agak murung)
sudahlah, jika kamu ingin mendekat kepada ciptaan Allah, maka kamu harus mendekati yang menciptakan dulu
haduuh.. iya deh iya bu Nyai wkwkwk( sambil meundukan kepala meledeki Afifah )
Eh eh eh,, sudah jangan kebanyakkan menghayal, nanti sore setelah sholat ashar sudah dimulai latihannya, nanti bareng ya na ,, sekarang aku mau mandi dulu ( beranjak dari tempat duduknya)
iya deh nanti aku ke kamarmu,,
dah ana ( sambil berjalan kembali ke kamarnya
daaaaahh,,,
Bagiku hari ini adalah hari yang paling membahagiakan. Bagaimana tidak, di hari pertama aku masuk pesantren , aku diajak untuk mengikuti kompetisi hadroh puteri, yang diselenggarakan di Pendopo Pringsewu.
Aku tidak bisa menolaknya, karena aku adalah salah satu pecinta sholawat. Dan bagiku, ini merupakan petama kalinya kami diizinkan lomba oleh pimpinan pondok kami.
Pondok Pesantren Darul Ilmi merupakan salah satu pesantren yang ada di Tanggamus, Di Pimpin oleh Bpk Kyai Syaifuddin dan Ibu Nyai Rohma dengan ratusan santrinya. Para Santri sering memanggil pak kyai Syaifuddin dan Ibu nyai Rohmah dengan sebutan Abi dan Umi, hal ini bertujuan agar para santri lebih dekat dengan Gurunya, seperti pengganti oraang tua mereka. Abi mempunyai dua orang putera , anak yang pertama bernama Gus Salim dan anak yang kedua bernama gus Fahmi. Gus Salim telah selesai study nya dan saat ini telah menikah dengan puteri dari Kyai syaiful yang bernama Ning Anisa. Sedangkan Gus Fahmi masih melanjutkan mondoknya di Kairo Mesir Al Azhar.
Abi mempunyai seorang santri yang sangat tekun dan juga salah satu ssantri kepercayaan , Namanya Mas Gilang, dia juga merupakan pelatih hadroh di Pondok Pesantren Darul Ilmi. Dia juga banyak dikagumi oleh para santriwati disini, bagaimana tidak, suaranya yang merdu membuat hati santriwati berkeping-keping.
Sore itu aku segera bergegas pergi ke kamar ipeh, untuk pergi latihan hadroh bersama teman-teman yang lainnya,,,
peh, ipeh,, afifah Nur Azizaaaaah ( Sambil masuk ke dalam kamar ipeh )
duh mba Ana ini kebiasaan sekali sih, tuh di pintu sudah jelas ada tulisan, Sebelum masuk harus mengucapkan SALAM ( Tegas dila salah satu teman sekamar ipeh )
hehehe,, iya deh maaf, yaudh aku ulangi ya ,, Assalamualaikuuuumm (sambil kembali keluar dan kembali masuk )
Walaikumussalam warohmatullohi wabarukatuh ( Ipeh dan dila berbarengan menjawab salam )
Nah gtu dong ,, kan enak di dengar ( sambil merapikan jilbab )
hehe ,, hayuk peh kita latihan udah gk sabar nih ( sambil menarik ipeh )
eh bentar-bentar na , itu si dila tungguin , ( melepaskan tangan ana)
emang dila ikut apa ? ( dengan wajah bingung)
eh eh eh gini gini aku vokalis loh wkwkk ( sambil bersiap-siap )
ahahahaha aku lupa kalo kamu bisa suara bass wkwkwk (sambil meledek )
sudah yuk kita berangkat ( sambil berjalan menuju aula pondok )
Kamipun segera menuju Aula pondok dan disana sudah ada mba dewi, mba Fatimah, Aisyah dan tentunya mas gilang. Dari kejauhan aku tak pernah mengalihkan pandanganku kepada mas gilang,, sebenarnya mas gilang pernah mendekati aku, tetapi aku masih belum mempunyai rasa kagum kepadanya, kemudian seiring berjalannya waktu diam-diam aku memiliki perasaan terhadapnya, Namun, sangat disayangkan dia memiliki perasaan kepada mba Bila, ya wajar saja sih, mba bila merupakan sesosok wanita idaman, selain suaranya yang sangat indah , pemikirannya pun sangat dewasa.
Eheeeem,,,,,, awas nanti kesandung batu,, kalo jalan lihat jalan jangan lihat doi ( senggol dila kepadaku)
iiih dila ,, apaan si , jangan keras-keras nanti mas gilang dengar ( sambil membisikan dila)
naaaah itu mereka sudah sampai ,, ayok sini ( teriak mba dewi kepada kami)
hehe iya mba ,, ( tegasku sambil duduk mengambil alat masing-masing )
mmm o iya,, mba bila dimana ? kok gk ada ? ( Tanya Afifah)
Dia belum pulang kepondok setelah liburan ini,, mungkin minggu depan pulang ( jawab mba Fatimah )
Ya sudah kita mulai saja ya latihannnya ( Kata mas gilang )
Mas gilang menjelaskan kepada kami tekhik perlombaannya, dan lagu apa saja yang akan diperlombakan, kamipun latihan dengan penuh semangat, ya tentu saja sangat semangat , karena ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu. Waktupun berjalan sangat cepatnya , suara adzan maghrib pun akan segera dikumandangkan, kemudian kami akhiri latihan kami , dan segera mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat jamaah maghrib.
Mba dewi, mba Fatimah , Aisyah dan dila pun segera pergi meninggalkan tempat latihan karena hari ini jadwal mereka membagikan makanan unttuk para santri. Kemudian aku bersama ipeh membantu mas gilang membereskan alat-alat hadroh. Hatiku merasa tidak karuan saat berada di dekat mas gilang, jantungku berdegup kencang seakan ingin meninggalkanku. Apalagi mas gilang memintaku untuk menemuinya besok pagi di perpustakaan pesantren, entah apa yang ingin dia bicarakan.
Aku bangun dari tidurku, kemudian aku berbegas menuju perpustakaan pesantren , hatiku merasa tidak karuan, kemudian aku duduk di kursi sambil membaca buku, dan tiba-tiba ada seseorang yang dating menghampiriku, lalu duduk di depanku.
Mas gilang ingin menyampaikan hal apa ? ( Tanyaku heran )
Ana, mas gk tau ingin memulai nya dari mana , tetapi jujur mas mempunyai perasaan sama Ana, apakah kamu ingin berkomitmen bersamaku na ? ( sambil menatapku )
Aku terkejut mendengar hal itu, entah apa yang harus kulakukan , aku terus menunduk dan sama sekali tidak mempunyai keberanian menatapnya kembali.
Ana ,,? ( tanya mas gilang )
mm, mmas gilang serius ? bukankah mas gilang mempunyai perasaan terhadap mba bila ? ( tanyaku kepadanya )
Aku memang punya perasaan terhadap bila, tapi bila tidak mencintaiku jadi untuk apa aku memperjuangkannya ? dengar Ana , aku merasa nyaman denganmu, kita sama-sama belajar dan mengabdi dulu sma abi, kamu menekuni Al-Quran dan aku menekuni kitabku na ( tegasnya )
Dan apabila mba bila mempunyai perasaan kapada mas gilang ketika kamu sudah berkomitmen bersamaku, apakah mas gilang ingin kembali mencintai mba bila ?
Aku sudah memilih dirimu na, lalu mengapa aku memilih dia kembali yang sudah jelas menyia-nyiakan perasaanku, ( jawab mas gilang dengan wajah yang penuh keyakinan )
Aku terpukau mendengar penjelasan mas gilang, dan tidak bisa dipungkiri bahwa aku juga mempunyai perasaan terhadapnya, akupun menerima mas gilang, mas gilang memintaku untuk tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun. Namun, aku bercerita kepada ipeh dan dila karena mereka salah satu temanku yang sangat dekat denganku. Setelah mendengar hal itu, mereka sangat terkejut, karena yang mereka tahu, mas gilang mempunyai perasaan terhadap mba bila,tetapi inilah faktanya. Dila sangat setuju dan merasa senang mendengarnya, tapi entah mengapa ipeh merasa ragu dengan mas gilang.
kamu yakin kalau mas gilang benar-benar tulus ? jangan-jangan kamu hanya menjadi pelampiasan saja ( tegas ipeh kepadaku )
eh mba fifah ini ngawur, ya mana mungkin seorang mas gilang mempermainkan perasaaan ( tegasnya )
Ya sudah jalani saja dulu na, tqpi inget tujuan awalmu apa? Menjaga Al quranmu ana , jangan sampai kamu mengkhianati amanah yang sudah Allah berikan kepadamu ? ( sambil duduk di sampingku )
Iya inysa Allah peh ( sambil merangkul Ipeh)
kujalani hariku dengan mas gilang, tidak bisa dipungkiri perasaanku semakin dalam dan semakin tulus kepada mas gilang, dua minggu telah berjalan kemudian kami focus ke perlombaan hadroh.
Sore itu kami latihan seperti biasa, dan dihadiri oleh mba bila. Aku merasa takut, dan cemburu melihat mba bila dilatih vocal dengan mas gilang. Aku takut perasaannya kembali tumbuh. Apalagi banyak sekali yang mendukung mas gilang dan mba bila, seperti mba dewi, mba Fatimah dan masih banyak lagi. Semakin hari sikap mas gilang semakin berubah kepadaku, entah mengapa ? aku semakin takut melihat perubahan sikap mas gilang kepadaku.
Kemudian aku meminta mas gilang ke perpustakaan dan bertanya kepadanya . mengapa mas gilang berubah kepadaku. Mas gilang menjelaskan kepadaku. Sikapnya berubah karena orang tuanya mengetahui hubunganku dengannya. Orang tuanya sangat marah kepadanya, hingga tidak ingin berbicara kepada nya. Akupun sangat kasihan mendengarkannya, sebagai wanita aku sangat merasa bersalah kepadanya, karena secara tidak langsung aku telah menyebabkan kemarahan orang tuanya. Kemudian aku memutuskan untuk tidak berkomitmen dengan mas gilang, walau sakit rasanya, tapi menurutku inilah yang terbaik untuk mas gilang, aku tidak ingin orang yang kucintai jauh dari orang tuanya.
Hari ini kompetisi akan dimulai, kamipun segera bergegas menuju lokasi perlombaan, tentunya kami meminta izin dan ridhonya abi terlebih dahulu sebelum kami pergi. Kami diberikan izin untuk membawa ponsel, dan aku sangat menunggu kabar dari mas gilang, namun mas gilang tidak memberi kabar sama sekali. Kamipun duduk di kursi peserta kemudian tak sengaja kulihat mas gilang sedang asyik main ponsel. Kulihat layar ponselnya, akupun terkejut dan menahan betapa sakitnya perasaanku ketika melihat mas gilang sedang chatingan dengan mba bila. Aku berusaha untuk focus ke perlombaan. Di atas panggung akupun tak kuasa menahan tangisku melihat mas gilang sangat memperhatikan mba bila, karena saat itu mba bila menjadi vocal utama. Setelah perlombaan usai, kami mendapat kabar bahwa kami mendapatkan juara 2 hadroh puteri. Kamipun sangat senang sekali karena ini pertama kalinya kami ikut kompetisi dengan membawa piala.
Hatiku sakit, seakan terombang-ambing, apalagi setelah melihat kebohongan mas gilang mengenai orang tuanya, kemudian aku mendapatkan kabar bahwa mas gilang akan bertunangan dengan mba bila dan itu sudah disetujui oleh Abi dan Umi dan akan dilaksanakan akdun Nikah Mubarok di Pondok. Hatiku semakin hancur, kemudian aku melaksanakan sholat tahajuud dan semakin merasa bersalah kepada Allah karena telah menomor duakan apa yang menjadi tugasku.
Ana sudah lah jangan bersedih, kekecewaanmu sebagai bentuk kasih saying Allah agar kamu kembali kepada Al quranmu ( tiba-tiba afifah menemuiku dan merangkulku )
Hatiku sakit peh ,, mengapa dia berbohong kepadaku ? mengapa dia menyatakan persaannya kepadaku ? mengapa dia membuatku mencintainya jika dia ingin kembali kepada mba bila ? ( isak tangisku kepada ipeh )
Sudahlah Ana ini sudah qudroh nya Allah, kamu harus ikhlas, kamu harus menerimanya, kembalilah kepada Allah, karena Allah lah yang memberikan mahabbah kepada hambanya, Allah akan memberikanmu yang terbaik Ana,, ( sambil memelukku )
Aku tak kuasa menahan rasa sakitku, rasanya sangat sakit seakan merasa dipermainkan, sejak saat itu aku sadar bahwa aku salah dalam mencintai makhluk. Aku tidak pernah menyalahkan cinta atas rasa sakitku Karena cinta pada hakikatnya Cinta itu bukan maksiat, maksiat itu ketika dirimu bermain-main dengan perasaan yang lain yang mengatasnamakan cinya.
Aku memutuskan untuk pindah pondok dan meneruskan studi ku di Kairo sambil menghafalkan Al-Quran. Kujalani dan kunikmati tiap bait dan sajak yang ada di dalam Al-Quran, kulimpahkan rasa cintaku kepada Al-Quran hingga aku berhasil menghatamkan Al-Quran dengan mumtaz , kemudian akupun mengikuti wisuda Akbar Bin Nadzor 30 juz, isak tangisku tak lagi terbendung ketika aku memakaikan selempang kepada orang tuaku, sungguh kebahagiaan yang sangat luar biasa. Aku merasakan betapa nikmatnya Rahmat yang telah Allah berikan kepadaku.
Akupun pulang ke Tanah Air bersama orang tuaku, tak lama setalah aku dirumah kemudian aku terkejut melihat Abi syaifuddin dan Umi rohmah berkunjung kerumahku. Aku merasa sangat terhormat dan malu karena kedatangan Abi bersama Umi, kulihat dari kejauhan ada seseorang pemuda memakai sarung hitam, baju koko hitam dan peci putih , aku tidak tahu siapa dia dan ada hubungan apa dengan abi dan Umi. Kupersilahkan Abi, Umi dan pemuda itu untuk masuk ke dalam, akupun membuatkan wejangan untuk abi dan Umi, sambil menunggu Air tak sengaja aku mengupng pembicaraan Abi dan orang tuaku,,,,
Kami kesini berniat melamar puterimu untuk puteraku gus fahmi ,,( tegas abi kepada bapak )
Mendengar hal itu berlinang air mataku, aku sujud di balik tembok , merasa brsyukur kepada Allah, karena telah memberikan seseorang seperti gus fahmi. Kemudian aku segera memberikan jamuan kepada abi dan umi, akupun duduk disamping Ibuku.
Kami sangat terhormat mendengarkan maksut dan tujuan pak kyai kemari, Namun kami serahkan keputusan ini kepada puteri kami (sambil melihatku )
Ana,, apakah kamu menyetujuinya ?( Tanya abi kepadaku )
Akupun mengangguk menerima lamaran gus fahmi, akdun nikah akbarpun dilaksanakan di pondok Pesantren Darul Ilmi, dengan sangat meriah dan penuh hikah, kamipun diberi amanah untuk mengurus pondok pesantren Darul Ilmu, karena mas Salim sudah mendirikan pondok di jawa dan Abipun sudah cukup tua untuk mengurusi pesantren, kemudian dilimpahkan amanah besar ini kepada aku dan mas fahmi.
Akupun merasa sangat bahagia karena sesungguhnya rencana Allah lebih indah dari rencana makhluknya, dan apabila kita semakin mencintai Allah, maka Allah akan memberikan seorang yang mencintaimu dengan tulus karena sebagai bentuk cintanya kepada Allah.
Resti Andini
Prodi Manajeman Pendidikan Islam
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Intan Lampung
0 Komentar untuk "HAKIKAT CINTA "Resti Andini""